Arsip Basah dan Berjamur ? Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya

9 April 2026
Arsip Basah dan Berjamur ? Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya

Arsip adalah rekaman informasi yang memiliki nilai guna baik secara administratif, hukum, maupun historis. Di instansi pemerintah, perusahaan, lembaga pendidikan, hingga organisasi kemasyarakatan, arsip menjadi tulang punggung tata kelola yang baik. Namun, satu ancaman yang kerap diabaikan adalah kerusakan fisik akibat air dan jamur.

Bayangkan ribuan lembar dokumen penting kontrak kerja, laporan keuangan tiba-tiba berubah menjadi tumpukan kertas basah dan berjamur pasca banjir atau kebocoran atap. Bukan hanya kerugian materi, tetapi juga kehilangan bukti hukum yang tidak ternilai harganya.

Menurut berbagai kajian manajemen arsip, kelembapan yang tidak terkontrol adalah penyebab utama kerusakan koleksi arsip kertas di negara-negara tropis seperti Indonesia. Kondisi iklim dengan curah hujan tinggi dan suhu hangat sepanjang tahun menjadikan arsip sangat rentan terhadap kerusakan biologis.

Penyebab Arsip Basah & Berjamur

Kerusakan arsip akibat air dan jamur jarang terjadi secara tiba-tiba. Lebih sering, ini adalah akumulasi dari kondisi lingkungan yang tidak terjaga dalam waktu lama. Berikut faktor-faktor utamanya:

A. Kelembapan Udara yang Tinggi

Indonesia memiliki tingkat kelembapan relatif (RH) rata-rata antara 70–90%. Standar internasional untuk penyimpanan arsip kertas merekomendasikan RH di bawah 55%. Ketika udara terlalu lembap, serat kertas menyerap uap air dari udara secara perlahan. Proses ini melemahkan struktur kertas, menyebabkan warna memudar, dan menciptakan media tumbuh yang ideal bagi jamur dan bakteri.

B. Banjir & Kebocoran Atap

Bencana air adalah ancaman paling berbahaya. Banjir dapat merendam seluruh ruang arsip dalam hitungan jam, sementara kebocoran atap yang kecil pun jika tidak segera ditangani bisa merusak ratusan dokumen selama berbulan-bulan tanpa disadari. Air yang meresap ke dalam box arsip atau lemari akan mempercepat tumbuhnya jamur dalam 24–48 jam pertama.

C. Ventilasi & Sirkulasi Udara yang Buruk

Ruang penyimpanan yang tertutup rapat tanpa sirkulasi udara yang memadai menciptakan kantong udara lembap. Udara stagnan tidak hanya mendorong penumpukan kelembapan, tetapi juga memperparah penyebaran spora jamur yang sudah ada. Lemari arsip logam yang tertutup rapat, misalnya, justru bisa menjadi perangkap kelembapan bila tidak dilengkapi ventilasi.

D. Kontaminasi Biologis (Jamur, Bakteri & Serangga)

Jamur seperti Aspergillus, Penicillium, dan Cladosporium adalah musuh utama arsip kertas. Spora-spora ini ada di mana-mana di udara dan langsung berkecambah begitu kondisi kelembapan dan suhu mendukung. Koloni jamur menghasilkan enzim yang secara aktif memecah serat selulosa pada kertas, menyebabkan kertas melunak, berbercak hitam/hijau, dan akhirnya hancur. Serangga seperti kecoa, ngengat, dan kutu buku juga sering ikut merusak dokumen yang sudah lembap.

E. Suhu Penyimpanan yang Tidak Stabil

Perubahan suhu yang drastis (dari dingin ke panas dan sebaliknya) menyebabkan kondensasi — titik-titik embun yang terbentuk di permukaan kertas dan lemari arsip. Kondensasi inilah yang sering menjadi pemicu awal kerusakan pada arsip yang tampak tersimpan di tempat yang 'kering'.

 

Dampak Kerusakan Arsip Basah & Berjamur

Kerusakan arsip tidak berhenti pada fisik dokumennya saja. Dampaknya menjalar ke berbagai aspek:

  • Kerusakan fisik arsip dan hilangnya informasi
  • Kerugian hukun dan administratif
  • Resiko kesehatan bagi petugas arsip

Cara Mengatasi Arsip Basah & Berjamur

Penanganan arsip yang rusak akibat air dan jamur harus dilakukan secara sistematis, cepat, dan hati-hati. Berikut panduan langkah demi langkah:

Langkah 1 — Tindakan Darurat: Isolasi & Pengeringan

Dalam 24–48 jam pertama setelah kontak dengan air, prioritas utama adalah menghentikan kerusakan lebih lanjut:

  • Segera pindahkan dokumen basah ke ruangan dengan sirkulasi udara baik
  • Pisahkan dokumen basah dari dokumen yang masih kering
  • Buka dokumen yang bisa dibuka perlahan; jangan memaksakan dokumen yang masih terlipat
  • Gunakan kipas angin (bukan hair dryer) untuk mengeringkan udara sekitar
  • Untuk arsip digital/media, matikan peralatan elektronik dan jangan hidupkan sebelum benar-benar kering

Tip penting: Jika jumlah dokumen basah sangat banyak dan tidak sempat dikeringkan dalam 48 jam, pertimbangkan teknik pembekuan (freezing). Masukkan dokumen ke dalam kantong plastik kedap udara dan bekukan. Ini menghentikan pertumbuhan jamur sambil memberi Anda waktu untuk penanganan lanjutan

Langkah 2 — Pembersihan Jamur & Disinfeksi

Setelah dokumen cukup kering (tidak lagi basah kuyup), lakukan pembersihan jamur secara hati-hati:

  • Gunakan APD: masker N95, sarung tangan lateks, dan kacamata pelindung
  • Sikat koloni jamur yang sudah kering dengan kuas halus (jangan saat masih basah spora akan menyebar)
  • Lakukan di ruangan berventilasi atau di luar ruangan
  • Gunakan kain lembap yang dibasahi larutan alkohol 70% untuk membersihkan sisa jamur
  • Jangan gunakan pemutih (bleach) pada dokumen kertas tindakan tersebut akan merusak serat kertas

Langkah 3 — Restorasi & Pemulihan Dokumen

Dokumen yang sudah dibersihkan dan dikeringkan mungkin masih perlu restorasi:

  • Kertas bergelombang dapat diratakan dengan cara ditumpuk di bawah beban datar setelah benar-benar kering
  • Dokumen dengan tinta luntur: lakukan fotografi atau pemindaian segera sebelum informasi hilang total
  • Halaman yang saling menempel: pisahkan perlahan menggunakan spatula plastik tipis setelah pengeringan bertahap
  • Untuk arsip bernilai tinggi: pertimbangkan jasa konservator arsip profesional

Langkah 4 — Digitalisasi Arsip Penting

Pengalaman buruk ini adalah momentum terbaik untuk memulai digitalisasi. Arsip digital yang disimpan dengan benar tidak akan rusak karena air atau jamur:

  • Pindai dokumen dengan resolusi minimal 300 dpi (600 dpi untuk dokumen kecil/bersejarah)
  • Simpan dalam format PDF/A (standar archival) atau TIFF
  • Terapkan backup 3-2-1: 3 salinan, 2 media berbeda, 1 di lokasi terpisah
  • Gunakan sistem manajemen dokumen digital (DMS) untuk kemudahan pencarian

Pencegahan Jangka Panjang

Mencegah jauh lebih murah daripada memulihkan. Berikut standar yang perlu diterapkan secara konsisten:

a. Kendalikan Lingkungan Penyimpanan

  • Pasang dehumidifier untuk menjaga RH di bawah 55%
  • Pertahankan suhu ruangan antara 18–22°C
  • Pastikan ventilasi memadai — hindari ruang penyimpanan yang tertutup rapat
  • Jauhkan arsip dari sumber air (pipa, AC, atap bocor)

b. Gunakan Sistem Penyimpanan Standar

  • Simpan dokumen dalam folder/box bebas asam (acid-free)
  • Jangan tumpuk box arsip langsung di lantai — gunakan rak minimal 15 cm dari lantai
  • Hindari penyimpanan di ruang bawah tanah atau atap yang rawan bocor
  • Gunakan lemari arsip logam dengan ventilasi untuk arsip penting

c. Lakukan Inspeksi & Audit Berkala

  • Jadwalkan pemeriksaan kondisi fisik arsip minimal 3 bulan sekali
  • Pantau tingkat kelembapan dengan hygrometer digital
  • Segera tangani tanda-tanda awal jamur (bercak putih/hijau, bau apek) sebelum menyebar
  • Dokumentasikan kondisi arsip secara berkala sebagai bagian dari manajemen risiko

Penutup

Arsip basah dan berjamur bukan sekadar masalah kebersihan — ini adalah krisis manajemen informasi yang berdampak nyata pada operasional, hukum, dan sejarah sebuah institusi. Namun, dengan pemahaman yang tepat tentang penyebabnya dan langkah penanganan yang sistematis, kerusakan dapat diminimalkan bahkan dicegah sama sekali.

Kunci utamanya ada pada tiga hal: pengendalian lingkungan yang konsisten, sistem penyimpanan yang tepat, dan kesiapsiagaan menghadapi darurat. Ditambah dengan digitalisasi sebagai lapisan perlindungan tambahan, arsip Anda akan jauh lebih aman dari ancaman air dan jamur.

Jangan tunggu sampai arsip Anda rusak untuk bertindak. Mulailah hari ini dengan memeriksa kondisi ruang penyimpanan Anda, mengukur tingkat kelembapan, dan mengidentifikasi arsip-arsip yang paling perlu dilindungi. Tindakan kecil hari ini bisa mencegah kerugian besar di masa depan.